Wanita : Perlukah Asuransi Jiwa?

Jika berpegang pada pendapat para perencana keuangan secara saklek dan leterlek, mereka mengatakan bahwa ibu rumah tangga tidak perlu asuransi jiwa. Alasannya karena tidak ada dampak keuangan yang ditimbulkan dari peristiwa meninggalnya seorang ibu rumah tangga.

Tapi izinkan saya menawarkan sudut pandang berbeda.

Pertama, sesungguhnya suami akan sangat terbantu jika istrinya punya asuransi jiwa. 

Bukankah suami istri harus saling membantu? Ketika suami membeli asuransi jiwa atas nama dirinya, ia tengah membantu istri dan anak-anaknya. Ini sesuatu yang baik. Sebaliknya, ketika suami membelikan asuransi jiwa atas nama istrinya, ia tengah membantu dirinya dan anak-anaknya. Ini pun sesuatu yang baik.

Contoh: Seorang suami, karena tidak pernah membaca saran perencana keuangan, menyetujui tawaran agennya untuk membelikan istrinya asuransi jiwa dengan UP sebesar 1 miliar, sama seperti dirinya. Suatu ketika (mungkin beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian), istrinya dipanggil Yang Mahakuasa, maka cairlah uang 1 miliar dari perusahaan asuransi.

Kira-kira apa yang akan dilakukan sang suami dengan uang tersebut? Ini beberapa kemungkinannya:

  • Jika dia punya cicilan (rumah, mobil, dan lainnya), dia bisa melunasi utang-utangnya.
  • Jika dia seorang karyawan, dia bisa memulai bisnis sampingan.
  • Jika dia seorang wiraswasta, dia akan menambah modal usahanya.
  • Dia pun bisa saja menyimpan dana 1 miliar tersebut untuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Apa pun itu, semuanya baik dan sang suami akan merasa sangat terbantu.

Bagaimana kalau istrinya panjang umur? Ya syukur.

Kedua, jika suami memang tidak butuh uang pertanggungan dari istri, uang itu bisa disumbangkan ke lembaga sosial atau orang-orang yang membutuhkan.

Ini bisa jadi ladang amal yang luar biasa baik bagi suami maupun istri. Kapan lagi bisa menyumbang, katakanlah, sebesar 500 juta atau 1 miliar, kalau bukan dari asuransi?

Marilah kita luaskan cakrawala visi kita ke hal-hal yang spiritual, bukan sekadar bicara asuransi sebagai kebutuhan dasar belaka, terutama jika kita diberi kemampuan untuk itu.

Selain itu, premi asuransi itu sendiri pada hakikatnya dapat dihitung sebagai sedekah dan karena itu orang yang membayarnya akan mendapat pahala. Mengapa? Karena dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu orang-orang yang mengalami musibah, dan ini bisa terjadi setiap hari. Bedanya dengan sedekah biasa, di sini tidak ada pihak yang posisinya lebih tinggi (pembayar premi) dan tidak ada pihak yang posisinya lebih rendah (penerima manfaat). Keduanya setara, karena penerima manfaat adalah juga pembayar premi, dan pembayar premi pun ada kemungkinan menjadi penerima manfaat.

Mau membantu orang setiap hari? Jadilah peserta asuransi.

Ketiga, teori yang menyatakan ibu rumah tangga tidak butuh asuransi jiwa, sebetulnya hanya berlaku untuk asuransi jiwa dalam pengertian risiko meninggal dunia. Bicara soal risiko lain, misalnya penyakit kritis dan cacat, teori tersebut tidak berlaku sama sekali.

Bicara tentang penyakit kritis, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki risiko tersebut. Bahkan kaum perempuan memiliki kemungkinan yang lebih besar dan jenis penyakit yang lebih banyak. Saya tidak tahu statistiknya, tapi dilihat dari premi, biaya asuransi penyakit kritis (dan kesehatan pada umumnya) untuk perempuan lebih tinggi ketimbang laki-laki.

Keempat, suami akan lebih merasa aman jika istrinya pun punya asuransi penyakit kritis.

Jika seorang ibu rumah tangga terkena penyakit kritis, siapa yang akan menanggung biayanya? Tanpa asuransi, siapa lagi kalau bukan suami. Dan sungguh, akan sangat memberatkan bertindak sebagai “perusahaan asuransi” bagi orang-orang yang kita cintai.

Berapa UP yang Ideal untuk Ibu Rumah Tangga?

Pertanyaan selanjutnya, berapa UP yang ideal untuk ibu rumah tangga?

Jika premi bukan masalah, menurut saya, sebaiknya UP asuransi untuk istri sama dengan UP yang dimiliki suami. Kenapa? Hal itu menunjukkan besarnya penghargaan yang diberikan suami dan istri kepada satu sama lain. Bukankah suami istri harus saling menghargai secara setara?

Itu bicara UP jiwa. Dalam hal UP penyakit kritis, bukankah kita tak pernah tahu, siapa yang membutuhkan biaya lebih besar?

Ibu Rumah Tangga memiliki kontribusi menjaga kestabilan keluarga. Jika tugas-tugas rumah tangga diserahkan kepada orang lain itu ada biaya yang harus dikeluarkan.. dan ada pula yg nilainya tidak bisa terhitung. Disitulah letaknya Ibu rumah tangga harus dihargai secara setara.

Bagaimana dengan Single-Mother dan Wanita yang masih Single ?

Beberapa calon klien yang saya temui adalah Single-Mother, ada juga yang belum menikah, tapi memiliki tanggungan. Kepada mereka saya sarankan selain memiliki UP jiwa yang cukup besar, juga memiliki manfaat rider yang lengkap.

Sekarang ini banyak perempuan berperan ganda, selain ibu rumah tangga juga menjadi pekerja. Perempuan yang memiliki suami,  single-mother, juga wanita belum menikah. Kadang penghasilan mereka lebih besar daripada pria.

Meskipun kontribusi wanita ini cukup banyak, tetapi masih lebih sedikit yang ikut asuransi dibandingkan para pria. Ada pula yang coverage nya kurang maksimal, padahal asuransi ini sangat penting untuk ‘menjaga penghasilan’ tetap ada ketika hal yang buruk terjadi (meninggal, cacat tetap karena sakit/kecelakaan, terkena sakit kritis).

Jika ingin dibuatkan ilustrasi sesuai profil anda, silahkan klik di sini

So ladies… yuk berasuransi 🙂

Yessi Dian Novita

HP/WA : 08129645333

pin BB : 52139031

email : yessidiannovita@yahoo.com

Leave a Reply