Mahalnya Merawat Ginjal Rusak

imageTEMPO.CO , Jakarta: Mendengar kata cuci darah, tentu terbersit biaya yang mahal. Tapi sebenarnya berapa harga yang harus dibayar para penderita gagal ginjal ini untuk terus bertahan hidup? “Untuk cuci darah saja, rata-rata Rp 50-80 juta per tahun, tergantung rumah sakitnya,” kata Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Dharmeziar, dalam konferensi pers menyambut Hari Ginjal Sedunia, Rabu, 6 Maret 2013.

Dharmeziar menuturkan dia memiliki pasien yang sudah menjalani cuci darah selama 20 tahun. “Dari dia punya anak, hingga sekarang anaknya masuk kuliah, bayangkan betapa besarnya,” ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi ini. Biaya yang lebih murah, meski tetap juga lumayan adalah terapi peritoneal dialisis yang angkanya berkisar Rp 50 juta-Rp 75 juta per tahun.

Biaya tertinggi jatuh pada transplantasi ginjal, yang mencapai Rp 150 juta-250 juta. Sesudah operasi, penderita pun masih harus mengkonsumsi obat yang tidak murah juga. “Secara perlahan, biaya konsumsi obat, jauh lebih murah dari cuci darah dan dialisis, jika ginjalnya bekerja sempurna,” ujar dia. Manusia memiliki dua ginjal yang beratnya masing-masing sekitar 100 gram.

Menderita sakit ginjal kronis tentu bukanlah cap yang menyenangkan. Tapi terkadang penyakit ini diabaikan karena gejala awal yang tak terdeteksi. “Penderita penyakit ginjal kronis tidak akan pernah normal,” ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi Parlindungan Siregar.

Menurut Parlindungan, bagi penderita ginjal kronis hanya ada harapan untuk memperlambat proses kerusakan ginjal. “Karena kondisi ginjal bisa perlahan atau cepat untuk mencapai stadium akhir,” jelas dia. Solusinya adalah dengan menghambat progesivitasnya. Misal untuk penderita ginjal kronis dengan tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi, maka diberi perlakuan untuk mengendalikan kenaikannya.

Lalu, Ia menjelaskan, bisa juga mengurangi konsumsi protein yang memperberat kinerja ginjal. Secara hormonal, dokter memungkinkan untuk memberi terapi pada kelenjar paratiroid, kelanjar yang memproduksi hormon paratirod. Hormon ini bertugas mengaktifkan kadar kalsium dalam Kalsium sebagai mineral masih dibutuhkan tubuh dan ginjal untuk bekerja.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Dharmeziar menjelaskan, masalah ginjal kronis adalah masalah utama penyakit ginjal yang sering tidak disadari. Penyakit ini ditandai dengan memburuknya kinerja ginjal yang memiliki laju filtrasi glomerolus ginjal sebesar 60 ml/menit lebih dari tiga bulan.

Ia menuturkan, memang tak ada gejala klinis yang bisa menunjukkan bahwa penderita mengalami penyakit ginjal kronis. Akibatnya, banyak pasien yang telat deteksi sehingga ketika diketahui penyakitnya, sudah mencapai empat dan lima. Sehingga terpaksa pasien pun wajib untuk menjalankan cuci darah hingga transplantasi ginjal.

Solusinya, Dharmeziar menyarankan, adalah mulai waspada terhadap kondisi ginjal dengan semakin bertambahnya usia. Khususnya mereka yang sudah memiliki faktor risiko seperti berusia lanjut, penderita diabetes, hipertensi, dan perokok. “Mulailah cek darah rutin dan cek tes celup urin,” kata dia.
DIANING SARI

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/03/07/060465539/Mahalnya-Merawat-Ginjal-Rusak

Di Allianz terdapat manfaat tambahan untuk proteksi penyakit kritis seperti ini, tidak hanya untuk penyakit ginjal kronis tapi ada 100 kondisi sampai usia nasabah 100 tahun (CI 100). Tentang CI 100 selengkapnya bisa dibaca di sini.

Artikel lain yang bisa dibaca : Critical Illness Hidden Cost 

Milikilah proteksi untuk 100 kondisi penyakit kritis dari sekarang, sejak anda masih sehat.

Untuk memiliki proteksi ini, anda bisa hubungi saya di nomor kontak di atas.

Ilustrasi manfaat CI 100 untuk usia 30 thn bukan perokok dan bekerja di dalam ruangan bisa dilihat seperti di bawah ini.

image

image

Leave a Reply