Kita Perlu Tahu, Hampir Setengah Pasien Kanker di Asia Tenggara Bangkrut dalam Setahun

Artikel ini menarik untuk kita ketahui..

ditulis ulang dari :

http://health.detik.com/read/2015/08/20/112718/2996420/763/studi-hampir-setengah-pasien-kanker-di-asia-tenggara-bangkrut-dalam-setahun

image

Firdaus Anwar – detikHealth

Kamis, 20/08/2015 11:27 WIB

Nusa Dua, Bali, Kanker adalah penyakit tak menular yang jumlah pengidapnya semakin meningkat tiap tahun. Bila tak ada upaya pencegahan, maka beban sosial ekonomi akan semakin menumpuk juga.

Pengobatakan berbagai kanker dengan kemoterapi, radioterapi, dan operasi memakan biaya yang tak sedikit. Sebuah studi yang dilakukan oleh ASEAN Cost in Oncology (ACTION) menguji biaya yang dikeluarkan 9.513 orang pengidap kanker di delapan negara termasuk Indonesia dan menemukan hampir 50 persen mengalami kebangkrutan atau masalah finansial setelah menjalani pengobatan selama 12 bulan.

Salah seorang peneliti yang terlibat dalam studi, Mark Woodward dari George Institute of Global Health mengatakan parahnya lagi pengidap sering kali adalah pencari nafkah dalam keluarga. Alhasil seluruh kesejahteraan keluarga juga akan terpengaruh karena pengidap sangat bergantung pada bantuan.

“Mereka tak punya kemampuan untuk membayar utang atau dokter. Ada bencana finansial karena rata-rata pengeluaran untuk kesehatan bisa melebihi 30 persen dari pemasukkan,” papar Mark ketika ditemui pada konferensi media di Westin Hotels & Resort, Nusa Dua, Bali, Kamis (20/8/2015).

Mark menjelaskan dari pasien sebagian besar datang dan menjalani pengobatan medis pada stadium empat, tingkatan terakhir kanker. Akibatnya dalam waktu pengobatan setahun, 30 persen responden meninggal. Hanya sedikit yang bisa selamat lebih dari setahun tanpa disertai dengan kesulitan finansial.

“Perlu ada tindakan darurat untuk melindungi orang-orang dari beban finansial penyakit ini,” lanjut Mark.

Deteksi dini berkualitas adalah solusi yang diajukan studi untuk pemerintah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penyebab beratnya beban sosial ekonomi dari kanker ini adalah karena kerap penyakit baru ditemukan pada stadium lanjut sehingga pasien lebih membutuhkan perawatan dan kemungkinan selamatnya juga lebih kecil.

Mari kita renungkan…

Masalah biaya pengobatan sakit kritis ini adalah masalah bersama. Selain membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, juga kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja optimal lagi. Saya tidak hiperbolik.. bolehlah sekali-kali kita survey biaya pengobatan untuk penyakit-penyakit yang tergolong berat itu.

Bagi yang sudah memiliki aset cukup banyak, bisa saja menjual asetnya untuk biaya pengobatan. itupun, sering kali pasien tidak mau mengorbankan aset yang dimiliki karena memikirkan masa depan keluarganya, berat kan menjual rumah satu-satunya yang jadi tempat berteduh keluarga ? atau mengorbanan dana pendidikan anak yang dikumpulkan sekian lama untuk dipakai biaya hidup/biaya berobat ? akhirnya banyak yang pasrah dengan penyakitnya itu.

Beberapa kali saya temukan orang tidak mau mengobati penyakitnya karena ketiadaan biaya, juga beberapa kali ada keluarga yang akhirnya pasrah membiarkan keadaan pasien karena keluarga tidak mampu menyediakan biaya pengobatan yang layak. menyedihkan..

Seandainya .. kita, atau saudara kandung kita yang mengalami kondisi seperti itu, mampukah kita membantu mereka ? membantu biaya pengobatannya, membantu biaya hidup keluarganya ? bukankah tuntunan agama menyuruh kita melakukan itu ? dan mampukah mereka membantu kita jika kita sendiri yang mengalaminya ? (silahkan bayangkan bagaimana keadaan finansial keluarga besar kita masing-masing…adakah yang bisa kita andalkan, jika ada, maukah mereka ikut menanggung beban kita ?)

Masyarakat kita masih kental dengan semangat tolong menolong. Jika ada yang terkena musibah, biasanya spontanitas kita bantu dengan mengumpulkan sumbangan alakadarnya. Di masyarakat kita pasti kita akan saling bantu, tapi berapa banyak kita bisa mengandalkan keluarga besar kita ? teman dan sahabat kita ? bantuan itu terbatas pastinya. Beban yang berat yang ditanggung oleh beberapa orang saja tentu akan terasa berat.

perlu ada suatu mekanisme tolong menolong dengan cara lain.

mengapa kita tidak saling bantu untuk lingkup kepesertaan yang lebih besar dengan berasuransi ? ‘Saweran’ yang kita berikan mampu menolong orang lain, juga mampu menolong kita ketika kita sendiri yang terkena musibah. kalau jumlah peserta ‘sawerannya’ banyak, tentu jumlah sawerannya jadi ringan, ya kan ? itu inti dari asuransi syariah sebenarnya.

Bukankah sesama manusia kita harus saling tolong menolong ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s