Bukan Asuransinya yang Salah, Tapi…

Kasus Pertama, beberapa hari yang lalu seorang tetangga menelpon saya, tetangga saya yang baik itu sedang berada di Rumah sakit, keponakan beliau yang masih  duduk di bangku SMA mengalami kecelakaan. Beberapa tulang patah dan retak di muka dan bahunya, ketika motor yang sedang ditumpanginya menabrak sebuah mobil. Karena kecelakaan itu, perlu dilakukan pembedahan segera dan pihak rumah sakit meminta sejumlah uang untuk deposit, kurang lebih sebesar 20 juta rupiah.

Kebetulan anak itu memiliki polis asuransi, dan karena beliau tahu saya seorang agen asuransi maka beliau menanyakan apakah biaya rumah sakit ini di cover asuransi atau tidak.

Pertama yang saya tanyakan, manfaat apa saja yang ada di polisnya ? Sayangnya, tetangga saya itu menceritakan bahwa orang tua dari ponakannya itu kurang faham manfaat asuransi yang tercantum dalam polis anaknya itu.

Kemudian isi polis yang mereka punya diperlihatkan pada saya, dan ternyata  manfaat yang tertulis di polis adalah manfaat santunan harian jika rawat inap dan manfaat asuransi jiwa jika tertanggung meninggal dunia. Dalam polisnya tidak ditambahkan manfaat rawat inap yang bisa menanggung biaya perawatan dan pembedahan. Saya jelaskan, untuk manfaat santunan harian seperti itu, biaya rawat inap dan pembedahan ditanggung pribadi dulu baru kemudian bisa diajukan klaim ke perusahaan asuransinya. Penggantian yang didapat hanya berupa santunan harian dan santunan pembedahan sesuai yang tertulis di polisnya.

Singkat cerita, akhirnya anak itu dibawa pulang oleh keluarganya dan memutuskan untuk menjalani pengobatan tradisional, yang  secara biaya lebih murah, katanya.

Dia merasa punya asuransi juga tidak banyak membantu.

Kasus kedua, Keluarga muda dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil. Ayahnya sebagai kepala keluarga bekerja sebagai seorang pengusaha dan saat itu kehidupan yang dijalani cukup  mapan. Suatu ketika seorang agen asuransi datang untuk menawarkan membuka polis. Karena begitu persistennya Agen Asuransi itu menawarkan programnya, akhirnya karena merasa tidak enak hati maka diputuskan untuk membuka polis asuransi, itupun dengan manfaat yang tidak terlalu besar.  Manfaat yang diambil terdiri dari asuransi jiwa dan Hospital & Surgical (manfaat rawat inap dan pembedahan ) dengan sistem kartu/cashless.

Sampai suatu saat ada kejadian yang akhirnya merubah kehidupan keluarganya. Istrinya didiagnosa terkena kanker usus. Awalnya karena merasa sudah punya asuransi, ada harapan yang besar biaya pengobatan tentu tidak masalah. Ternyata, untuk biaya pengobatan untuk Kanker, hanya mengandalkan Askes HS untuk rawat inap saja tidak cukup. Kemoterapi dll butuh biaya sangat besar. Aset yang dimiliki satu per satu dijual, mulai pinjam sana sini. Uang Bisnis juga terpakai untuk biaya pengobatan, akhirnya bisnisnya bangkrut meninggalkan utang yang banyak. Setelah menjalani kemoterapi ke sekian kalinya, akhirnya Istrinya pindah dunia di usia yang masih muda. Dihitung-hitung, biaya yang sudah dikeluarkan untuk pengobatan kanker itu total kurang lebih sebesar 2 Milyar.

Dia merasa punya asuransi juga ternyata tidak banyak membantu.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil ?

gb2 blog

Asuransi jiwa melindungi kita dari kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui dan memiliki dampak keuangan yang besar. Asuransi menanggung hal-hal yang secara finansial tidak sanggup kita tanggung atau merasa berat jika harus menanggungnya sendirian.

Maka, prioritasnya sebaiknya berdasarkan dampak keuangan yang ditimbulkannya. Jika akibat dari suatu kejadian membuat seseorang langsung jatuh miskin, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat belitan hutang, sumber penghasilan terputus, maka itulah yang harus kita prioritaskan.

Dari pertimbangan resiko terhadap dampak keuangan yang ditimbulkannya itu, maka ada 4 jenis proteksi yang merupakan prioritas untuk dimiliki :

  1. Asuransi Meninggal Dunia

Asuransi ini menanggung resiko meninggal dunia, wajib dimiliki pencari nafkah atau mereka yang memiliki tanggungan. Misal ayah dan juga ibu jika bekerja, anak yang menanggung nafkah orang tua atau saudara-saudaranya.

Baca Juga : 355 Ribu Per Bulan Dapat UP 1 Milyar, Mau ?

2. Asuransi Kesehatan Rawat Inap

Setelah Proteksi Dasar terpenuhi, selanjutnya adalah asuransi kesehatan rawat inap untuk seluruh anggota keluarga. produk asuransi kesehatan ada juga yang dipasangi rider (manfaat tambahan) rawat jalan, rawat gigi atau persalinan. Tapi yang diprioritaskan adalah rawat inap. Karena biaya pengobatan rawat inap bervariasi tergantung jenis penyakitnya, tapi umumnya cukup memberatkan jika ditanggung sendiri.

Sebagian besar orang telah memiliki askes rawat inap. Ada yang didapat sebagai fasilitas kesehatan yang diberikan kantor, ada yang menggunakan BPJS. Beberapa yang merasa kurang nyaman dengan BPJS bisa memilih asuransi swasta lain.

Baca Juga : Beberapa Pilihan Asuransi Kesehatan dari Allianz

3. Asuransi Penyakit Kritis

Dari segi dampak keungan, penyakit kritis dapat menimbulkan dampak yang sangat besar. Apalagi jika berlangsung berkepanjangan atau tidak tersembuhkan. Contoh, orang yang terkena stroke berat, jika tidak sembuh, dia jadi lumpuh dan tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Tapi tetap terus berobat sementara biaya hidup tidak bisa ditunda.

Proteksi sakit kritis tidak dimaksudkan untuk menggantikan asuransi kesehatan. Proteksi sakit kritis bisa mengisi kekurangan yang tidak bisa diberikan asuransi kesehatan, yaitu uang tunai dalam jumlah besar (ratusan juta hingga milyaran rupiah)

Baca Juga : Keunggulan Rider Penyakit Kritis dari Allianz

4.Asuransi Cacat (Sebagian maupun total, karena sakit ataupun kecelakaan )

Cacat bisa disebabkan kecelakaan atau penyakit. Dalam hal cacat tetap total, kejadian ini sama akibatnya dengan meninggal dunia dan beberapa jenis penyakit kritis, yaitu hilangnya penghasilan karena tidak mampu bekerja lagi

Ada dua proteksi yang melindungi dari resiko kecacatan yaitu ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung resiko cacat (sebagian maupun total) akibat kecelakaan, sedangkan TPD menanggung resiko cacat total akibat sakit maupun kecelakaan.

Dengan mengetahui hal ini, diharapkan kita tahu proteksi apa yang kita butuhkan. Seberapa besar uang pertanggungan yang harus kita miliki. Seberapa lama kita butuh proteksinya. Setiap orang tidak bisa dipukul rata kebutuhannya, perencanaan proteksi ini  ‘tailor made’ tergantung kondisi dan kebutuhan masing-masing.  Jangan sampai, ‘Payung’ proteksi yang kita punya tidak bisa kita gunakan maksimal ketika hujan turun.

Bukan Asuransinya yang salah, tapi prioritasnya yang harus benar..

Mau diskusi lebih lanjut ? silahkan hubungi saya di nomor kontak di bawah

 

Yessi Dian Novita

Business Partner Allianz Life Indonesia

HP/WA : 08129645333

email : yessidiannovita@yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s