Category Archives: Asuransi Syariah

Allianz Syariah Bisa Berikan Perlindungan Maksimal Bagi Para Nasabah

 

Dalam Asuransi Syariah, dana tabarru memegang peranan yang sangat penting. Hal ini karena rekening tabarru merupakan sumber bagi pembayaran klaim  bagi seluruh peserta asuransi syariah.

Untuk itu bila seseorang ingin membeli produk asuransi syariah sebaiknya mencari tahu sebesar apa dana tabarru yang dikelola oleh sebuah perusahaan asuransi tersebut, atau dengan bahasa lain artinya seseorang harus mencari tahu sebesar apa kemampuan bayar klaim sebuah perusahaan asuransi syariah.

Bagaimana dengan Allianz Syariah ? Alhamdulillah sampai dengan akhir 2016, total dana tabarru sebesar Rp. 467,143 Milyar dan dengan rasio solvabilitas sebesar 543%, jauh diatas ketentuan pemerintah yaitu sebesar 30%.

Jadi, dengan data tersebut dapat dipastikan bahwa dana tabarru Allianz Syariah sangat kuat dan insya Alloh bisa memberikan perlindungan maksimal bagi para nasabahnya.

So, segera sampaikan berita baik ini dan jadikan Asuransi Allianz Syariah sebagai jembatan Anda menuju kesuksesan.

 

 

Rezeki Sudah Dijamin Allah…. Buat Apa Lagi Ikut Asuransi…?!

.

Sering ada yang berpendapat “Saya tidak perlu lagi ikut asuransi….
Karena Allah sudah menjamin rezeki hambaNya….
Jika suatu saat saya meninggal….
Insya Allah, anak dan istri saya tetap tercukupi kebutuhannya.”

.

Pernyataan di atas memang benar….
Dalam Al-Qur’an dan Hadist menjelaskan bahwa setiap makhluk sudah dijamin rezekinya oleh Allah….

.

Allah berfirman….
“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Huud: 6)

.

Rasulullah juga bersabda….
“Kalaulah anak adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian….
niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR. Ibnu Hibban)

.

Tapi sebagai manusia, kita pun wajib berikhtiar dan berusaha sekuat tenaga….
tidak hanya pasrah menunggu nasib….
Jika ada Allah yang memberi dan menjamin rezeki….
lalu…, kenapa Anda harus bersusah payah bekerja demi mendapatkan sejumlah uang…??
Diam saja dirumah….
menunggu uang datang menghampiri….

.

Jika ada Allah yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit….
lalu untuk apa Anda mesti pergi berobat ke dokter..?!
Diam saja dirumah, tunggulah sampai anda sehat sendiri….

.

Padahal Allah telah menjamin Nabi Muhammad SAW masuk surga….
Tapi mengapa Nabi tetap beribadah siang dan malam….
dan beristighfar sebanyak-banyaknya demi mendapatkan pengampunan Allah…??

.

Itu artinya kita harus senantiasa berikhtiar….
bukan hanya sekedar berdiam diri dan pasrah tanpa melakukan apapun….

Pernah ada suatu kejadian di zaman Khalifah Umar bin Khattab….
waktu beliau selesai shalat subuh di sebuah mesjid dan hendak pulang ke rumah untuk mulai beraktifitas….
beliau melihat seseorang yang sedang duduk di dalam mesjid dan sedang khusyuk berdzikir….
Beliau tidak menyapa orang tersebut karena takut akan mengganggu sehingga beliau meninggalkan mesjid….

Saat waktu dhuhur tiba….
Khalifah Umar kembali ke mesjid untuk menunaikan shalat dhuhur….
dan beliau masih melihat orang tersebut, dengan posisi duduk yang sama dan pakaian yang sama….
Berarti orang ini belum pernah pulang ke rumahnya dan masih menetap di dalam mesjid demikian lamanya….

Sampai tiba waktu ashar….
Khalifah Umar masih melihat orang tersebut, begitu pula hingga waktu maghrib dan isya….
Akhirnya setelah shalat isya Khalifah Umar megatakan sesuatu kepada orang tersebut….
“Keluarlah dari mesjid dan ber-ikhtiar lah…!! Karena Allah tidak pernah mentakdirkan emas itu turun dari langit.”

Saya pernah mendengar ceramah Ustadz Khalid Basalamah….
dan beliau pada waktu itu mengatakan bahwa rezeki itu ibarat sebuah pohon yang sedang berbuah….
Ada buah yang berjatuhan ke tanah dan ada buah yang menggantung di pohon…..
Maka untuk mendapatkan buah yang di atas pohon kita harus berusaha (ikhtiar)….
misalnya memanjat pohon atau memakai tangga untuk naik ke atas pohon….

Berasuransi bukan berarti kita tidak beriman kepada Allah….
Berasuransi bukan menolak ataupun melawan takdir….
tetapi berasuransi untuk merencanakan masa depan….
untuk menyempurnakan bentuk ikhtiar dan usaha kita kepada Allah….
Karena yg di asuransi kan bukanlah jiwa kita….
Melainkan nilai ekonomi kita….

Asuransi diambil bukan karena ada orang yang akan meninggal….
Melainkan karena ada orang yg harus tetap hidup….

Allah maha baik….

sumber : https://www.facebook.com/marthahidayaheka.parma/posts/1375496522473202

Perasuransian dan Hukum Asuransi dalam Islam (Bagian-2)

Penulis : Dr. Setiawan Budi Utomo

Dr. Setiawan Budi Utomo
Penulis adalah Alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi. Saat ini aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Ketua Tim Akuntansi Zakat, anggota Komite Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Anggota Tim Koordinasi Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara dalam Valas, Anggota Tetap Tim Ahli Syariah Emisi Sukuk (Obligasi Syariah), Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI), Dewan Pakar Shariah Economic and Banking Institute (SEBI), Anggota Tim Kajian Tafsir Tematik Lajnah Pentashih Al-Qur�an Depag, Dosen Pasca Sarjana dan Pengasuh Tetap Fikih Aktual Jaringan Trijaya FM, Pegiat Ekonomi Syariah dan Referensi Fikih Kontemporer Indonesia. Penulis juga merupakan salah satu peneliti di Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI).
Tentang “Perasuransian dan Hukum  Asuransi dalam Islam (Bagian-1)”  bisa dibaca DI SINI

Prinsip Operasional Asuransi Syariah

 Prinsip utama dalam perasuransian syariah adalah ta’awanu ‘alal birri wa al-taqwa (tolong-menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa) dan al-takmin (rasa aman). Prinsip ini menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung risiko. Hal ini disebabkan transaksi yang dibuat dalam asuransi takaful adalah akad takafuli (saling menanggung), bukan akad tabaduli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. Continue reading

Perasuransian dan Hukum Asuransi dalam Islam (Bagian ke-1)

Yuk belajar lagi tentang Asuransi Syariah… 🙂

Penulis : Dr. Setiawan Budi Utomo

Dr. Setiawan Budi Utomo
Penulis adalah Alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi. Saat ini aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Ketua Tim Akuntansi Zakat, anggota Komite Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Anggota Tim Koordinasi Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara dalam Valas, Anggota Tetap Tim Ahli Syariah Emisi Sukuk (Obligasi Syariah), Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI), Dewan Pakar Shariah Economic and Banking Institute (SEBI), Anggota Tim Kajian Tafsir Tematik Lajnah Pentashih Al-Qur�an Depag, Dosen Pasca Sarjana dan Pengasuh Tetap Fikih Aktual Jaringan Trijaya FM, Pegiat Ekonomi Syariah dan Referensi Fikih Kontemporer Indonesia. Penulis juga merupakan salah satu peneliti di Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI).

Continue reading

Wakaf Wasiat Polis Syariah Bersama Wakaf Al-Azhar (QUANTUM WAKAF)

“Barangsiapa yang wafat dalam keadaan berwasiat, maka dia telah mati di jalan Alloh dan Sunnah Rasulullah, mati dalam keadaan diampuni atas dosanya.” (H.R. Ibnu Majah)

PENGERTIAN

Wakaf Wasiat adalah suatu perencanaan wakaf dengan mewasiatkan secara legal sebagian dari kepemilikan asset wakif ketika yang bersangkutan meninggal dunia namun tetap dapat menikmati manfaat dari asset yang diwakafkan tersebut selama wakif tersebut hidup.

Wakaf Wasiat Polis Syariah adalah Quantum Wakaf untuk dapat mewakafkan hingga melebihi nilai asset yang kita punya saat ini tanpa mengurangi hak ahli waris.

CONTOH

Bapak H Ahmad Nashir (usia 35 tahun) merencanakan wakafnya 1,5 juta setiap bulan yang dibayarkan melalui Bank Syari’ah/sahabat wakaf dengan jangka waktu 10 tahun atau seumur hidup melalui program wakaf perkebunan sawit seluas 1 hektar. Continue reading

Berasuransi Syariah itu Menenangkan

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Seiring kesadaran akan keislaman yang semakin meningkat, maka menjadi  sangat penting untuk mempertimbangkan apakah suatu produk keuangan itu sesuai dengan kaidah yang diyakini (syariah) atau tidak.  Islam  meliputi segala segi kehidupan manusia, termasuk juga mengatur soal muamalah. Asuransi termasuk yang harus diatur didalamnya. Ketika berasuransi tentu yang diharapkan adalah keberkahan dan menghindarkan segala sesuatu yang dilarang seperti Riba, Maysir dan Gharar.  Asuransi syariah sudah divalidasi oleh MUI dan dalam pelaksanaannya ada Dewan Syariah yang mengawasi. Dengan mekanisme ini sudah tidak lagi ada keraguan untuk berasuransi syariah. Continue reading

Cara Kerja Investasi pada Asuransi Syariah

Prinsip asuransi syariah berdasar pada hukum Islam, oleh karena itu produk asuransi syariah tidak menginvestasikan dananya dalam bisnis yang mengandung riba (berbunga) dan hal lain yang diharamkan Islam. Asuransi syariah juga tidak bertransaksi dan berinvestasi pada instrumen yang tidak jelas akadnya (gharar), spekulatif dan memiliki potensi merugikan salah satu pihak.

Continue reading

Polis Asuransi Jiwa untuk Wakaf

Mengutip sebuah hadist HR Muslim,

Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, yaitu :

  1. Shadaqah jariyah (Wakaf)
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak Shaleh yang mendoakan

Kita berharap bekal amal kita cukup ketika kita berpulang nanti. kita berharap shadaqah yang kita berikan menjadi aliran pahala yang terus mengalir seperti mata air yang tak pernah kering. Kita berharap ilmu yang kita pernah bagikan kepada orang lain bisa menjadi ilmu bermanfaat dan diamalkan. Kita juga beharap anak keturunan kita menjadi anak shaleh yang mendoakan kita bahkan ketika kita sudah tiada. Continue reading

Konsep Tabarru'(Tolong Menolong) dalam Asuransi Syariah

imageKonsep dasar asuransi syariah adalah

  1. Saling bertanggung jawab.

Semua peserta dalam asuransi syariah adalah satu keluarga besar yang mempunyai kewajiban saling bertanggung jawab antara satu dan lainnya. Memikul tanggung jawab dengan niat baik merupakan ibadah. “kedudukan hubungan persaudaraan dan perasaan orang-orang beriman antara satu dengan yang lain seperti satu tubuh, apabila ada anggotanya yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya “(HR. Bukhari Muslim)

  1. Saling bekerja sama

Para peserta bersetuju untuk bekerja sama dan saling membantu antara satu sama lain dalam unsur kebaikan (QS. Al Maidah :2)

  1. Saling Melindungi

“sesungguhnya seorang yang beriman adalah siapa yang memberi keselamatan dan perlindungan terhadap harta dan jiwa manusia” (HR. Ibnu Majah).  Peserta menyetorkan preminya dengan niat tabarru dan perusahaan asuransi syariah selaku pengelola akan mengelola dana peserta sesuai kaidah-kaidah syari.

Saling memikul resiko diantara sesama sehingga antara satu dengan yang lain menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Saling pikul resiko ini dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebajikan dengan cara setiap orang mengeluarkan dana kebajikan (dana Tabbaru’).

image

Tabbaru bisa diartikan sebagai bentuk derma yang dilakukan dengan niat ikhlas oleh seseorang dengan tidak mengharapkan balasan dari pihak lain.

Implementasi akad takafuli dan tabarru’ dalam sistem asuransi syariah ini direalisasikan dalam  bentuk pembagian setoran premi menjadi dua,

  1. Untuk produk yang mengandung unsur tabungan (saving) maka premi yang dibayarkan akan dibagi ke dalam rekening dana peserta dan satunya llagi rekening tabarru’
  2. Sedangkan untuk produk yang tidak mengandung unsur tabungan (non saving), setiap premi yang dibayar akan dimasukkan seluruhnya ke dalam rekening tabarru’.

Keberadaan rekening tabarru’ menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan seputar ketidakjelasan (ke-gharar-an) asuransi dari sisi pembayaran klaim. Misalnya, seorang peserta mengambil paket asuransi jiwa dengan masa pertanggungan 10 tahun dengan manfaat 10 juta rupiah. Bila ia ditakdirkan meninggal dunia di tahun keempat dan baru sempat membayar sebesar 4 juta maka ahli waris akan menerima sejumlah 10 juta. Pertanyaannya, sisa pembayaran sebesar 6 juta diperoleh dari mana. Disinilah kemudian timbul gharar tadi sehingga diperlukan mekanisme khusus untuk menghapus hal itu, yaitu penyediaan dana khusus untuk pembayaran klaim (yang pada hakekatnya untuk tujuan tolong menolong) berupa rekening tabarru’.

Untuk lebih jelasnya bisa kita lihat fatwa MUI di sini.

Selanjutnya dana yang terkumpul dari peserta akan diinvestasikan oleh pengelola ke dalam instrumen-instrumen investasi yang tidak bertentangan dengan syariat.

Apabila hasil investasi diperoleh keuntungan, maka setelah dikurangi beban-beban asuransi, keuntungan tadi akan dibagi antara peserta dan pengelola berdasarkan akad bagi hasil dengan rasio yang disepakati di muka. Wallahu a’lam.

imageBolehkah ahli waris memanfaatkan uang pertanggungan yang diberikan, padahal mungkin tabarru’ yang dibayarkan jauh lebih kecil jumlahnya ? apakah itu haram ? penjelasan dari pertanyaan itu kurang lebihnya seperti ini. Uang pertanggungan yang diberikan itu berasal dari dana tabarru’ (dana yang dikumpulkan untuk nantinya digunakan untuk memberikan santunan kepada peserta jika terkena musibah). Siapapun tidak menginginkan terjadi musibah pada diri dan keluarganya ketika mengajukan diri untuk ikut berasuransi syariah. Karena akad berasuransi syariah adalah saling tolong menolong antar peserta,  ketika seseorang terkena musibah maka perusahaan asuransi mewakili peserta lain memberikan santunan/hibah kepada ahli waris agar dampak finansial akibat musibah tadi bisa teratasi. Silahkan santunan tadi dipergunakan untuk berbagai keperluan. Disitulah esensi tolong menolong/saling menanggung resiko itu terjadi.

Dana Tabarru’ ini bisa menjadi amal yang bernilai ibadah. Tidak ada istilah ‘uang hangus’ karena uang derma ini tentu akan menjadi sumber pahala yang terus mengalir jika disertai dengan niat yang ikhlas. Karena secara langsung maupun tidak langsung kita menyantuni anak yatim piatu, janda yang ditinggal suaminya, menyantuni orang yang terkena kecelakaan berat, membantu orang-orang yang sakit dll.

Anda bisa membaca beberapa tulisan inspiratif di blog ini sebagai gambaran betapa banyak orang yang terbantu tanpa anda sadari dengan anda ikut menjadi peserta asuransi syariah.

Setidaknya ada 3 manfaat khusus menjadi peserta asuransi syariah :

Aman secara syariah, karena semua dana peserta hanya diinvestasikan pada produk-produk yang sesuai dengan prinsip syariah. Adanya konsep tolong menolong dalam kebajikan dan perlindungan, sehingga menjadikan semua peserta sebagai keluarga besar yang saling menanggung satu sama lain. Adanya bagi hasil. untuk kepesertaan tidak ada batasan bagi non muslim untuk menjadi peserta asuransi syariah. bahkan tidak sedikit nasabah  non muslim yang telah bergabung menjadi peserta asuransi syariah.

Mari berasuransi Syariah, salam.

Mengenal Lebih Dekat Dewan Pengawas Syariah

Setiap perusahaan yang memiliki bisnis berbasis syariah, pasti familiar dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Mengapa DPS memainkan peranan penting ? ikuti wawancara singkat dengan Mohamad Hidayat, Ketua Dewan Pengawas Syariah Allianz Life Indonesia.

Apakah fungsi DPS dan di mana posisinya dalam sebuah perusahaan ?

DPS merupakan dewan yang memberi nasihat kepada direksi dan melakukan pengawasan syariah dalam perusahaan. Tugas DPS juga memberikan opini hukum syariah atas produk-produk yang dikembangkan oleh perusahaan. DPS masuk dalam struktur perusahaan yang memiliki bisnis dengan basis syariah, dan kedudukannya setara dengan komisaris. Namun bedanya, DPS fokus pada aspek syariah. Tidak hanya soal produk, namun juga kebijakan dan pemasaran. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak akan menerima produk keuangan syariah sebelum mendapat persetujuan DPS.

Jika produk sudah dipasarkan, lalu dalam perjalanannya terdapat pelanggaran, apa yang DPS lakukan ?

Secara berkala DPS melakukan pengawasan  melalui rapat bulanan dimana perusahaan memberikan laporan dari divisi syariah mengenai perkembangan bisnis, respon pasar, akad, serta tantangan yang kerap dihadapi. Dengan begitu DPS bisa mengetahui jika ada masalah yang muncul dalam bisnis yang sedang berjalan.

Sudah berapa lama bapak menjadi ketua DPS Allianz Syariah ?

Cukup lama, bahkan sebelum Allianz Syariah berdiri. Saat itu ibu Kiswati berkonsultasi dengan saya mengenai pendirian Allianz Life Syariah. Tahun 2006 Allianz Syariah berdiri, baik itu Allianz Life maupun Allianz Utama dan  saya menjadi ketua DPS untuk kedua perusahaan tersebut.

Kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh anggota DPS ?

Pertama, ia harus menguasai bidang ekonomi syariah sehingga ia dapat merumuskan kebijakan dan juga berperan sebagai konsultan bagi perusahaan yang diawasi. Kedua, ia harus mengenal industri keuangan yang diawasi dengan baik. Misalnya ia mengerti tentang syariah tapi tidak mengerti tentang asuransi, maka akan percuma saja. Terakhir, ia harus mentaati fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional. Jika memiliki kualifikasi tersebut maka ia bisa mendapat rekomendasi dari MUI untuk menjadi ketua DPS.

Apa saja tantangan dalam menjalankan fungsi ketua DPS ?

Bisnis keuangan syariah makin berkembang dan selalu berusaha mengikuti keinginan konsumen. Kami dari DPS harus cermat melihat dan memeriksa semua item dalam produk syariah yang akan dipasarkan, sehingga sesuai dengan persyaratan yang berlaku

Dikutip dari : buletin Kabar Allisya edisi 04 November 2014