Category Archives: tulisan inspiratif

Anjuran Berasuransi, Mana Dalilnya ?

Kita melihat banyak pemisalan-pemisalan baik dalam alqur’an maupun hadist, seperti di bawah ini :

Kewajiban Satu Tahun Setelah Meninggal

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuknya, yaitu diberi nafkah hingga setahun lamanya..” (QS. 2:240)

Demi Anak-Anak

“Dan hendaklah takut kepada Alloh orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka.” QS. An-nisaa ayat 9 (QS 4:9)

Masa Depan

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah tiap-tiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari esok…” Q.S Al-Hasyr ayat 18 (QS. 59:18)

Jaga Lima Sebelum Datang Lima

“muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati (al-Hadist)

Menabung untuk Ahli Waris

“Wahai Saad, apabila kamu tinggalkan keturunanmu dalam keadaan cukup jaminan hartanya adalah lebih baik ketimbang kamu meninggalkannya dalam keadaan serba kekurangan, sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada orang, kadang diberi kadang ditolak (Dialog Rasululloh dan Saad Bin Abi Waqash)

Bukankah itu semua berbicara tentang konsep asuransi ? Bukankah itu semua adalah anjuran-anjuran dalam Alqur’an dan hadist tentang konsep asuransi ?

 

Baca Lebih Lanjut :

Perasuransian dan Hukum Asuransi dalam Islam (Bagian ke-1)

Perasuransian dan Hukum Asuransi dalam Islam (Bagian-2)

 

 

Saya Tidak Mau Hidup Berdasar Belas Kasihan Orang

Tepat 2 tahun lalu saya mengenal seorang ibu , awalnya beliau salah seorang pengunjung Blog saya. Beberapa saat kemudian beliau hubungi saya lewat WA untuk menanyakan segala hal terkait Tapro Allisya Protection Plus. Setelah berdiskusi mengenai kebutuhan proteksinya, saya coba bantu membuat perencanaan proteksi sesuai kebutuhan dan kemampuan beliau.

Alasan-alasan apa yang membuat beliau tergerak membuka polis asuransi ? sebelumnya beliau bercerita, “Saya  Ibu single parent dengan seorang anak laki-laki . Saya tidak mau hidup berdasar belas kasihan orang. Kalau terjadi resiko hidup pada saya, saya tidak mau anak saya hidup dikasihani orang. Belum tentu juga walinya nanti sanggup menanggung beban finansial anak saya. Saya tahu Tuhan Maha Kaya, saya tahu Tuhan yang akan menjamin rezeki anak saya, tapi bolehkan saya mempersiapkan diri dan memaksimalkan ikhtiar saya untuk anak saya ?”  Continue reading

Pembayaran Klaim Angioplasty oleh Allianz

“Pekerjaan seorang agen asuransi adalah memberikan anda UANG pada saat yang paling diperlukan , dimana pada saat itu TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MENGAMBIL TANGGUNG JAWAB dan TIDAK ADA ORANG YANG MAMPU MEMBANTU”.

Kata-kata itu terbukti sudah…. setelah kemarin Staff Administrasi kantor mengabarkan Klaim nasabah saya disetujui oleh Allianz.

Beliau adalah nasabah kedua saya sejak saya bergabung menjadi agen di Allianz sekaligus nasabah pertama lintas pulau, nasabah saya ini  tinggal di Banjarmasih dan kenal saya lewat blog http://proteksisyariah.com yang saya kelola. Continue reading

9 Alasan Orang Tidak Memiliki TAPRO untuk Proteksi Penghasilan

Setiap orang membutuhkan TAPRO dan kadang ada tantangan tersendiri bagi seorang agen asuransi untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya TAPRO ini. TAPRO adalah sebuah program yang dapat melindungi penghasilan dari 3 resiko : sakit kritis, Cacat Tetap ( akibat sakit atau kecelakaan ), dan meninggal dunia. Beberapa alasan yang sering terlontar, seperti yang saya berikan di bawah ini : Continue reading

Tapro Allianz untuk Proteksi Bisnis dan Asset

image

Pada suatu hari terjadi percakapan antara saya dan seorang pemilik warung makan padang langganan saya seperti berikut ini :

” Saya punya banyak asset, saya juga punya bisnis warung makan yang cukup menghidupi keluarga . Saya rasa asuransi tidak penting untuk saya. Investasi di asuransi tidak menguntungkan buat saya.”

Continue reading

Life Insurance is Love Letter to Your Family

Pagi ini, Saya mendapatkan pencerahan kembali lewat tulisan seorang leader hebat saya ibu Esra Manurung tentang pengalaman seorang ibu, istri dari nasabah beliau bagaimana asuransi sangat membantu krisis keuangan yang dialami seseorang ketika terkena musibah..

“Saya tahu waktu suami saya berfikir untuk mengambil asuransi, dan saya mendukung” katanya.

Di usia 28 tahun dia harus bisa menghadapi suami yang tidak bisa lagi melanjutkan bisnis. Mengurus bayi yang belum setahun.. 5 bulan bersama keluarga kecilnya dia berjuang untuk melawan kejamnya penyakit kritis, dan akhirnya sang suami kembali kepelukan Sang Pencipta.

Krisis keuangan adalah tantangan berikut yang harus dihadapi bersama buah hatinya. Bisnis yang terbengkalai, tagihan rumah sakit, biaya hidup sehari-hari, rencana masa depan semua tertumpuk di bahunya. Saat itu agen asuransinya datang memberitahu bahwa klaim sudah dibayar dan perusahaan asuransi akan mentranser dana hampir 2 milyar total benefit sakit kritis dan warisan.

Air mata kesedihannya masih belum kering, kali ini ditambah air mata haru karena cinta kasih suaminya yang melewati batas waktu hidup…datang padanya dalam bentuk benefit asuransi.

Semua hutang dan tagihan bisa dibayar dengan dana itu. Dan hebatnya hubungan baik dengan agennya telah membawanya ke kantor kami kemarin…dia memutuskan memulai lagi kehidupannya dengan menjadi partner di asuransi. Dengan membantu diri sendiri pada saat yang sama dia ingin bisa membantu lebih banyak lagi keluarga.

Oh what an inspiring story. Semoga cerita ini bisa berguna untuk keluarga yang sedang berfikir ulang untuk mengambil asuransi.

 

image

 

Teladan Pak Penjual Sate

image

30 tahun menikah dia hanya bisa mengontrak rumah yang sangat kecil untuk istri dan 3 anaknya. Tiap hari bapak ini menjual sate padang di pangkalan. Hebatnya setiap bulan beliau bisa menyisihkan 1,5 jt untuk perlindungan asuransi dirinya. Kelihatannya tanggung jawab seorang ayah dan kasih sayang yang BESAR telah mendorong beliau melakukan ini bertahun-tahun. Bisa ku bayangkan ini pasti beraaaaaattttt.

Sampai kejadian kemarin bapak ini sakit keras ternyata polis asuransinya memberikan benefit 300 jt untuk berobat. Lalu tidak lama dia harus meninggalkan keluarganya untuk bertemu Sang Penciptanya. Dan polis asuransinya pun memberikan warisan untuk keluarganya 300 juta lagi.

Alkisah sepeninggal almarhum, istri dan anak2 bisa membeli rumah dan mereka tidak lagi harus mengontrak.

Cinta sang ayah walau telah tiada masih mereka terima untuk melanjutkan hidup dan sekolah karena warisan polis yang ayah mereka bayar bertahun-tahun memberikan mereka modal untuk melanjutkan kedupan

Tegakah anda bilang kepada keluarga ini kalau asuransi itu gak penting ?

Tegakah anda menganggap rendah pekerjaan seorang agen asuransi ?

(seperti ditulis oleh Esra Manurung)

Mimpi Istri Anak Kapal Ikan

image

Para suami yang luar biasa,

Apakah pernah istri anda bercerita tentang impiannya kepada anda ?

Pernahkah berfikir rasanya mustahil mewujudkan impian itu walau bekerja siang dan malam ? Tapi setujukah anda bahwa cinta tidak terbatas uang, waktu dan keadaan ?

Dihati pria ini terpaku tekad untuk mewujudkan impian istrinya untuk punya rumah sendiri dan bisa membuka warung. Karena setelah menikah mereka menumpang di rumah orang tua. Sementara dua putri mereka semakin besar. Dengan gaji UMR nya  beliau menabung setiap bulan dalam bentuk batu bata dan semen sedikit demi sedikit.

Seorang agen asuransi yang luar biasa, bertemu dengannya di atas kapal tempat biasa beliau bekerja.. menjelaskan pentingnya dia sebagai kepala keluarga punya perlindungan untuk dirinya dan keluarganya. Tapi mau bilang apa ? gaji pokok dibawah 2 juta hanya cukup untuk makan. Kalaupun lebih hanya bisa beli beberapa batu bata atau beberapa kilo semen.

Tapi agen ini tidak putus asa.. melompat dari satu kapal ke kapal yang lain di bawah terik matahari.. dia melihat betapa  pedih kalau sampai ada apa-apa dengan mereka yang bekerja dengan resiko tinggi, terpisah pula berbulan-bulan dari keluarga. Dia pergi menemui bos mereka untuk meyakinkan pentingnya pegawai mereka diproteksi. Usaha tidak kenal lelah ini akhirnya membuka pikiran sang bos, alhasil mereka pun diberikan asilitas asuransi dengan budget separuh gaji atau 1 juta per tahun..

Malam jam 10 sehabis berlayar… sang suami dan teman-temannya lapar.. mencari makan di tengah hujan beliau mengalami kecelakaan dan haus kembali ke pangkuan Penciptanya diusia 29 tahun !

Cerita ini berakhir dengan mimpi istrinya yang menjadi kenyataan.. saat asuransi membayarka klaim kecelakaan  Rp.100 jt plus asuransi jiwa Rp. 100 jt. Dengan total uang itu anak dan istrinya sekarang sudah menempati rumah mereka sendiri dan warung untuk melanjutkan hidup mereka. Senyum kedua putri cantiknya yang berumur 4 dan 7 tahun tidak akan pupus walaupun kehidupan begitu keras terhadap mereka

(seperti yang ditulis oleh Esra Manurung )

Awas Maut… Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!

Pada produk Tapro Allianz, gejala-gejala seperti dialami wartawan Kompas.com, M Latief, ini masuk kategori Serangan Jantung Pertama (rider CI+ ataupun CI100, kriteria lengkap ada di bagian bawah). Simak bagaimana kisahnya lolos dari serangan maut agar kita semua waspada. (Sumber artikel: Kompas.com). 

M Latief saat berlibur dengan kedua putranya, Azka dan Azzam.

KOMPAS.com – Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.

Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

“Aneh, kok begini,” batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

“Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin,” kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya,” kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. “Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter,” ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

“Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya,” kata istri saya.

“Enggak, ini aneh. Rumah sakit… ke rumah sakit sekarang,” kata saya.

“Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu,” jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

“Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini,” kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.

“Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung,” bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

“Itu taksi,” kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

“Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat,” ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

“Tuhan… saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati,” batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

“Dada sesak, keringat dingin,” ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

“Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan,” ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

“Habiskan, Pak,” ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

“Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya,” ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua “pahlawan” saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.

Pembengkakan jantung

Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

“Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok,” kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa….

Editor :
Lusia Kus Anna
Kriteria Serangan Jantung Pertama dalam rider CI+ dan CI100 Tapro Allianz
Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung. Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saat terjadinya serangan tersebut adalah harus memenuhi 3 dari 5 kriteria tersebut di bawah ini di mana sesuai dengan diagnosa serangan jantung pertama:
1. Adanya nyeri dada khas pada saat serangan;
2. Terjadinya perubahan-perubahan gambaran elektrokardiogram yang khas untuk infark myocardial stadium dini;
3. Terjadinya peningkatan pada kadar enzim jantung CK-MB;
4. Terjadinya peningkatan Troponin (T or I)
5. Left Ventrikular Ejection fraction kurang dari 50% (lima puluh persen) yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih setelah serangan.

A Magic Bill

Sebuah polis asuransi jiwa dilihat sebagai lembaran kertas berisi kolom angka-angka dan bahasa hukum sampai polis ini dibasahi oleh air mata seorang janda. Kemudian polis ini menjadi keajaiban. Polis ini menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan lain yang tidak dapat lagi disediakan oleh Papa atau Mama tercinta.

Polis ini menenangkan tangisan seorang bayi yang lapar di malam hari. Polis ini menghibur hati yang sedih karena ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Suatu bisikan yang menghibur dalam keheningan dan kekelaman seorang ibu duduk sendirian memikirkan masa depannya. Polis ini adalah harapan yang baru. Semangat dan kekuatan untuk terus melangkah maju dalam kehidupan ini.

Polis ini adalah pendidikan kuliah untuk anak-anak tercinta. Suatu kesempatan untuk berkarir dan bukan pekerjaan biasa.

Polis ini adalah hadiah dari Papa untuk keluarga, yang dibungkus dengan penuh cinta oleh tangan papa yang sudah tiada.

Polis ini adalah surat cinta yang paling tulus yamg pernah ditulis. Lewat polis ini seorang laki-laki memenuhi kewajibannya ketika dia berjanji kepada mempelai wanitanya “untuk mencintai dan mengayomi dalam keadaan kaya maupun miskin dalam keadaan sakit maupun sehat sampai   maut memisahkan kita berdua”.

Polis ini adalah perjanjian dan keinginan terbaik yang pernah dilakukan manusia. Polis ini memberikan penghasilan masa depan untuk keluarganya yang dia harapkan untuk terjadi. Polis ini adalah dokumen ajaib yang merubah harapan menjadi kenyataan pada saat semua harapan terlihat lenyap.

Polis ini adalah impian yang mutlak dan rencana seorang papa untuk masa depan keluarganya, lambang terbaik dari cinta dan kesetiaannya, lewat asuransi jiwa, papa tetap ada sekalipun telah tiada. Premi yang dia tabungkan yang memberikan hak istimewa yang terbesar.

-Hak istimewa untuk hidup dan dikasihi

Meskipun ia TELAH TIADA.

 

Sumber : berasuransi.wordpress.com