Tag Archive | kejelekan asuransi syariah

Asuransi Syariah Halal

Teman-teman banyak yang mempertanyakan apakah asuransi syariah itu halal atau haram, karena  banyak informasi-informasi dalam bentuk tulisan, artikel atau apapun yang menyatakan asuransi syariah itupun tetap haram.

Jika ada seorang ustadz yang mengatakan bahwa semua daging ayam itu halal, kita percaya atau tidak ? Ada lagi ustadz yang mengatakan semua daging ayam itu halal, kita percaya atau tidak ? bahkan jika ada lagi ustadz yang mengatakan bahwa daging ayam ada yang halal ada juga yang haram, teman-teman mau pilih ustadz 1, 2 atau 3 untuk cari informasinya ?

Analogi ini saya sampaikan karena bertebaran pendapat, ada yang mengatakan semua asuransi halal, ada yang berpendapat semua asuransi haram, ada juga yang berpendapat asuransi seperti ini haram dan yang seperti itu halal.

Apa saja yang menyebabkan asuransi itu haram :

  1. Ada unsur gharar
  2. Ada unsur Riba
  3. Ada unsur Maysir

Ghararnya dimana ? dalam sebuat transaksi, apa yang kita bayar dan apa yang kita terima itu harus jelas dari awal.

Riba ? pertukaran atau jual beli  barang ribawi, pertukaran ini harus sama tidak boleh berlebih. Jika berlebih, maka kelebihannya itulah riba.

Maysir adalah untung-untungan atau perjudian. Ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.

 

ketiga hal ini terjadi dalam asuransi konvensional. Mengapa ?

Dalam asuransi konvensional, prinsip yang dipakai adalah risk transfering. Nasabah mentransfer resikonya kepada perusahaan asuransi. Untuk transfer resiko ini perusahaan asuransi meminta imbalan berupa premi atau biaya asuransi. Dalam asuransi konvensional, biaya asuransi ini menjadi pendapatan perusahaan. Perusahaan boleh pakai untuk membangun gedung, membayar gaji karyawan, jalan-jalan ke luar negeri apapun yang penting perusahaan mempunyai dana cadangan jika nasabah terkena musibah seperti meninggal dunia atau sakit maka klaim harus dibayarkan dari dana perusahaan.

Dimana Ghararnya ?

Pada saat transaksi pertukaran, apakah disini jelas nasabah bayar berapa dan dia dapat berapa ? Mungkin jumlah uang pertanggungannya jelas, misal jika nasabah meninggal dunia dapat 1 milyar, tetapi berapa premi yang dibayar tidak jelas. Bisa jadi nasabah baru membayar 3 bulan dengan premi perbulan 2 juta. Maka total yang dibayar 6 juta, santunan yang didapat 1 milyar. Ada juga nasabah yang membayar 10 tahun (total premi yang dibayarkan 240 juta) baru meninggal dan dapat santunan 1 Milyar. Jadi ada ketidakjelasan/gharar.

Dimana Ribanya ?

Nasabah baru bayar 6 juta, dapat santunan 1 Milyar, ini transaksi Riba karena pertukaran rupiah dengan rupiah harus sama, tidak berlebih. Kelebihannya ini Riba.

Dimana Maysirnya ?

Kalau nasabah baru bayar 3 bulan dan meninggal diberikan 1 milyar, maka bisa dikatakan nasabah untung perusahaan rugi. Tapi bisa jadi nasabah sampai 30 tahun membayar premi tapi belum meninggal, maka nasabah rugi perusahaan untung dalam hal membayar preminya.

Bagaimana dengan konsep Asuransi Syariah ?

Konsep asuransi syariah adalah Risk Sharing, semangatnya berbagi resiko antar sesama peserta. Sekelompok peserta membayarkan iuran tabarru, dimana iuran tabarru ini akan dikumpulkan dalam suatu pool dana yang dinamakan dana tabarru. Dana tabarru ini bukan income perusahaan. Jadi perusahaan asuransi tidak berhak menggunakan dana tabarru ini untuk membangun gedung, jalan-jalan, apapun. Karena dana ini tetap milik sekelompok peserta ini. Kalau ada apa-apa dengan peserta maka dari dana tabarru inilah kelak dibayarkan pertanggungannya atau klaimnya.

Apa peran perusahaan asuransi disini ?

Sekelompok peserta itu yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan mengumpulkan dana sekian besar, sampai trilyunan belum tentu punya kompetensi untuk mengelola dana yang sangat besar itu, maka kita mewakalahkan atau mewakilkan pengelolaannya ke perusahaan asuransi. Jadi disini wakalah dengan ujrah atau fee. Jadi kita mewakilkan pengelolaannya kepada perusahaan asuransi dan memberikan ujroh. Perusahaan asuransi disini tidak bertindak sebagai penanggung resiko tetapi membantu mengelola dana kita.

Berbeda dengan asuransi konvensional dimana perusahaan asuransi sebagai penanggung, nasabah sebagai tertanggung. Terjadi transaksi antara dua pihak ini. Di asuransi syariah tidak terjadi transaksi antara nasabah dengan perusahaan sebagai penanggung. Yang menjadi penanggung adalah sesama nasabah.

Apakah ada ghararnya ? tidak.

dalam dana tabarru ini, kita sudah menghibahkan sebagian dana kita untuk digunakan bersama-sama saat ada musibah. Ada seorang ustadz di you tube mengatakan semua transaksi gharar itu haram. Tapi sayang sekali, tidak semua transaksi gharar itu haram. Ilmu fiqih itu sangat luas, mungkin seseorang kiai atau ustadz menguasai fiqih ibadah tapi belum tentu menguasai fiqih muamalah. Jadi jika kita mau tahu tentang sesuatu maka  bergurulah/ bertanya kepada orang yang memahami atau mendalami ilmu fiqih tersebut. Untuk fiqih muamalah saya merekomendasikan Ustadz Erwandi Tarmizi untuk sama-sama simak apakah semua gharar itu haram.

Menurut Ustadz Erwandi Tarmizi, tidak semua gharar itu haram, ada 4 gharar yang dibolehkan dalam Islam :

  1. Gharar dalam pemberian, hadiah, hibah itu diperbolehkan. Apakah kalau kita memberikan hadiah, memberikan sesuatu pada orang lain, kita harus memberitahukan apa barangnya ? Tidak. Jadi, Gharar dalam pemberian, hadiah dan hibah itu diperbolehkan.
  2. Gharar untuk ukuran imateril atau ukuran/jumlah kecil masih diperbolehkan. Contoh kita membeli rumah, apakah kita tahu berapa campuran semen dan pasirnya ?, apakah kita tahu mutu batu batanya nomor berapa ?, apakah kita tahu tegelnya mutu yang mana ? Kita membeli secara keseluruhan, yang kita tahu harga rumahnya. Gharar yang kecil-kecil seperti itu yang sifatnya immateril itu diperbolehkan.
  3. Gharar yang mengikuti transaksi yang halal itu diperbolehkan. Kalau kita membeli anak kambing yang masih ada dalam kandungan induknya, itu gharar, tidak boleh, tidak jelas apakah anak kambing itu jantan/betina, apakah sehat/cacat itu tidak jelas. Tapi, jika kita membeli induk kambing yang sedang hamil beserta anak yang ada dalam kandungannya, itu diperbolehkan karena transaksi gharar ini mengikuti transaksi utama yang halal.
  4. Transaksi gharar yang menyangkut keperluan hajat hidup orang banyak, itu diperbolehkan. Misal kita membeli ubi 1 karung, mungkin dalam 1 karung itu ada ubi yang busuk, patah-patah, itu gharar yang diperbolehkan.

Mari kita lihat apakah gharar dalam transaksi hibah tabarru ini diperbolehkan ?

Tidak ada transaksi gharar dalam transaksi hibah, karena sekelompok nasabah ini menghibahkan dananya untuk dana tabarru.

Tidak ada Riba juga dalam transaksi Tabarru, karena kita bukan melakukan pertukaran antara nasabah dan perusahaan asuransi, tapi kita menghibahkan dana kita untuk digunakan bersama-sama. Tidak ada transaksi pertukaran antara barang ribawi atau antara uang dengan uang. Jadi disini transaksinya tolong menolong atau taawuni. Di asuransi konvensional yang terjadi adalah transaksi tabadulli/pertukaran, sedangkan di asuransi syariah itu transaksi taawuni/tolong menolong. Jadi unsur riba dan ghararnya hilang.

Apakah ada Maysir atau transaksi untung-untungan ? Tidak ada.

Tidak ada transaksi antara nasabah dan perusahaan dimana nanti salah satu dirugikan dan pihak lainnya dirugikan, karena transaksi yang terjadi adalah tolong menolong antara sekelompok nasabah.

Semoga uraian ini menghilangkan keraguan sebagian orang yang masih mengganggap Asuransi Syariah masih ada Riba, Gharar dan Maysir didalamnya.

Wallahu Alam..

#semangat bersyariah

#semangat berasuransi

#semangat kembangkan ekonomi syariah

 

sumber : https://www.youtube.com/watch?v=8cDxhPIfYbg&t=48s

posting ulang atas ijin Bpk. Bobby Roberto

 

 

Advertisements